Kenaikan harga BBM memang mendapat tentangan dari berbagai pihak, namun pemerintah memang tidak punya pilihan lain. Sehingga kebijakan kenaikan BBM tidak bisa dihindari, kenyataan yang terjadi tidak menyurutkan demo mahasiswa yang menentang kenaikan BBM. Sungguh ironis memang, mahasiswa sebagai golongan intelektual seharusnya bisa berfikir lebih panjang dan mendalam. Mampu menganalisa kenaikan BBM yang harus terjadi, sehingga mampu menjelaskan kepada masyarakat luas.
Pemerintah dengan kebijakan kenaikan BBM tidak serta merta meninggalkan rakyat begitu saja, terbukti dengan beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah berhubungan dengan upaya membantu masyarakat dalam menghadapi kenaikan BBM. Bantuan langsung tunai salah satu program pemerintah membantu rumah tangga miskin, sekali lagi bantuan langsung tunai banyak dimaknai salah, bantuan langsung tunai bukanlah program untuk mengentaskan kemiskinan, tetapi semata-mata membantu rumah tangga miskin sebagai kompensasi kenaikan BBM.
Peran-peran seperti sosialisasi kemasyarakat, seharusnya menjadi salah satu tugas mahasiswa sebagai masyarakat intelektual dan memiliki wawasan yang luas secara bahu membahu bersama-sama membangun masyarakat yang mempunyai ketahanan sosial baik secara okonomi dan psikologis, dengan modal semangat yang bangkit dari rasa kebersamaan dan kepercayaan antara masyarakat dan pemerintah, niscaya pembangunan akan tercapai lebih optimal, bermanfaat bagi masyarakat luas. Sebagai muaranya adalah terciptanya kesejahteraan bersama.
Demo terhadap kenaikan BBM semakin menyesatkan pemahaman masyarakat terhadap kebijakan pemerintah ini, pembangunan membutuhkan kondisi positif dimasyarakat, tanpa ada respon positif dan kepercayaan masyarakat pemerintah tidak mungkin mampu mewujudkan keinginan seluruh insan di Indonesia tercinta ini.
Mari bahu membahu membangun bersama dengan bijaksana.



